Orang Indonesia Belum Biasa Cuci Tangan Pakai Sabun

Kompas.com - 07/02/2012, 10:39 WIB

KOMPAS.com - Kebiasaan mencuci tangan memakai sabun rupanya belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya. Untuk itulah Lifebuoy meluncurkan gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). "Gerakan ini bertujuan untuk menciptakan kebiasaan sehat di kalangan masyakat Indonesia dengan mencuci tangan pakai sabun pada berbagai kesempatan, seperti sebelum dan sesudah makan, sesudah dari WC, dan juga sebelum menyusui," tutur Amalia Sarah Santi, Senior Brand Manager Lifebuoy, dalam peluncuran "Gerakan 21 Hari Lfebuoy Turut Mewujudkan Indonesia yang Lebih Sehat" di Pacific Place, Jakarta Selatan, Senin (6/2/2012) lalu.

Program G21H ini merujuk dari berbagai pendapat dan penelitian pakar perubahan perilaku bahwa untuk membentuk suatu kebiasaan baru secara terus-menerus tanpa putus dibutuhkan waktu minimal 21 hari. Dalam program ini yang menjadi sasaran utama adalah para siswa sekolah dasar, termasuk para guru dan  komunitas sekolah. Budaya baik CTPS yang tertanam sejak dini akan terus terbawa sampai tua. Upaya preventif di sekolah juga sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar dan kesehatan siswa.

Program ini juga menyasar keluarga, karena keluarga adalah unit terkecil dari bangsa, dan merupakan tahapan penting dari proses pendidikan dan penanaman budaya yang baik. Lifebuoy bekerjasama dengan beberapa kementerian, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) pusat, serta sejumlah LSM dan yayasan untuk mendukung kegiatan ini. Program awal ditargetkan untuk tujuh provinsi, yaitu Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Sumatera Utara, serta tiga provinsi yang memiliki tingkat PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat) dan CTPS yang masih rendah, yaitu Sulawesi Selatan (22,13 persen), Banten (19,29 persen), dan Sumatera Barat (7,81 persen).

"Sampai saat ini sudah lebih dari 745 sekolah di 10 provinsi di Indonesia yang dibantu untuk melakukan kebiasaan sehat ini. Sedangkan untuk di tingkat keluarga dibantu dengan dukungan TP PKK pusat, dan TP PKK di 33 provinsi," tukasnya.

Setelah melakukan berbagai program untuk membiasakan hidup sehat dengan CTPS, hasil implementasi yang telah dilakukan di 10 provinsi menunjukkan bahwa sekitar 127.441 siswa SD, atau sekitar 70 persen dari total peserta G21H dinilai berhasil dengan melakukan semua kebiasaan sehat dalam lima saat penting yang sudah ditentukan, yaitu pada saat sebelum makan pagi, makan siang, makan malam, setelah dari toilet, dan mandi pakai sabun setiap hari selama 21 hari berturut-turut tanpa putus.

"Sampai saat ini CTPS sebelum dan sesudah makan sudah berhasil dilakukan, namun menurut pengamatan yang paling sulit dilakukan oleh peserta adalah CTPS setelah dari toilet," bebernya.

Tingkat keberhasilan program G21H yang mencapai 70 persen diharapkan akan berdampak pada peningkatan derajat kesehatan dan mutu pendidikan. Secara kualitatif, G21H dinilai mampu menggerakkan berbagai pihak untuk bisa hidup lebih bersih dan sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau